Oleh : Ara Annisa Almi (Mahasiswa Fakultas Hukum UNAND Dan Kader Pergerakan Milenial Minang)
Opini - Pembukaan tulisan yang manis untuk menguraikan lebih jauh mengenai organisasi yang masih seumur jagung ini. Generasi baru atau biasa disebut sebagai millenial di era modern menjadi target daripada organisasi Pergerakan Millenial Minang dibentuk, dikomandoi lalu bergerak bersama-sama. Sebagian orang akan berpikir, apa urgensinya sehingga organisasi perjuangan ini harus ada dan eksis di tengah-tengah masyarakat minang. Namun telusur punya telusur, yang namanya bergerak dari zona nyaman pasti punya tujuan yang besar.
Sejauh ini, bahkan dengan beberapa aksi nyata, pernyataan tegas dan dukungan pada keadilan yang berkepastian hukum demi terwujudnya lima sila dasar negara kita, sudah menjadi ikon tersendiri bagi Pergerakan Millenial Minang.
Yang mana kita ketahui bersama bahwa tidak semua dari elemen masyarakat akan sefrontal dan seberani ini untuk bersuara walaupun banyak yang turut berjuang dengan caranya masing-masing. Dengan taraf keberanian yang sama tentunya, karena berjuang tidak melulu soal diskusi namun juga soal kita dapat mempengaruhi orang lain untuk ikut serta membersamai menjaga demokrasi.
Dan tentunya, pergerakan akan selalu tak diam. Ya, namanya juga bergerak. Butuh langkah yang kompak dan sama-sama mempunyai naluri untuk abdi pada persoalan masyarakat. Terlebih jika hukum yang dikatakan bisa menjamin terpenuhnya hak-hak setiap individu malah menjadi tameng bagi penguasa yang menciderai pemenuhan hak tiap lapisan masyarakat. Padahal hadirnya hukum ialah untuk menjaga keteraturan segala manusia yang dinaunginya bukan memaksakan kepentingan segelintir orang saja.
Walaupun hukum ialah benda mati namun hakikatnya diharapkan menghidupi semuanya, Mengenai millenial, bukanlah hanya membicarakan pemuda. Namun bagi kita, millenial ialah jiwa, jiwa yang membara dan segar untuk terus lantang bersuara. Orang yang menghabiskan waktunya untuk berpikir mengenai masalah kebangsaan yang membuatnya resah, orang yang ikut gemetar saat si ‘adil’ telah hilang dari bumi pertiwi dan orang yang akan bergerak tanpa takut kepada siapa ia akan menjaminkan keselamatan. Ia tau bahwa jika sesuatu itu benar, maka dukung lalu jika salah maka lawanlah hingga kesalahan itu tidak akan melenyapkan semuanya di kemudian hari.
Untuk pengantar penutup artikel ini saya sampaikan sedikit mengenai makna kehidupan, Hidup tak melulu soal sekolah, kuliah, lulus, bekerja, menikah beranak pinak kemudian mati. Ada baktimu pada sesama yang mesti kau tunaikan. Mereka yang ‘kuat’ harus bisa membantu dan melindungi mereka yang lebih ‘lemah’. Sebagai individu atau berserikat. Daring maupun luring


0 Comments