Jika aku ingin memenuhi Sunnah Rasul natinya, aku ingin menikahi perempuan sepertinya, perempuan yang tulus ketika menatap kekuranganku. Perempuan itu bernama Resa.
-
Ia akan menjadi istri sempurna bagiku, membayangkan hidup berdua dengannya sangat lucu, aku membayangkan, kami nantinya akan berjuang bersama menghasilkan uang atau apapun itu demi istilah yang disebut dengan Anak-anak. Anak-anak yang jelas keturunan Minangkabau, tidak seperti ku! Ayahku seorang Minangkabau, ibuku seorang Mandailing. Jika diminangkabakau adalah Matrilineal sedangkan di Mandailing patrilineal, aku tidak dapat apa-apa.
Aku bertemu dengannya di tempat yang suci di pesantren, tempat yang dipenuhi dengan santri dan santriwati. Ia bekerja di koperasi, koperasi pesantren. Sedangkan aku bekerja di hotel yang masih satu komplek. Kedua tempat kami bekerja berbeda namu pemilik keduanya Sama.
Sebelum aku benar-benar jatuh hati kepadanya, kami sempat beselisih dan bersapa.
Ia bekerja di koperasi pesantren telah 1 bulan sebelum aku bekerja tentu dia lebih akrab dengan suasana disana.
Sejak perselisihan dan Sapa terjadi banyak hal-hal yang berubah didadaku baik tentang ketukan, baik tentang ingin sering bertemu, padahal belum apa-apa ini baru permulaan.
Aku rasa ia lebih sering lewat ditempat kerjaku, orang-orang di tempat kerjaku juga berkata demikian. Namun bodohnya, aku tidak seberani Dilan untuk mengajaknya bicara.
Selain itu dia pernah meminta jambu kepada anak-anak santri yang sedang memanjat, dia mendapat jambu yang merah-merah sebanyak 3 buah aku nampak dan cukup jelas, tiba-tiba dia datang menghampiriku menanyakan.
"Abang nio jambu dak bang" Dia menawarkan dengan senyum Pepsodentnya.
"dak usah lah kak, di akak selah." Jawabku datar.
Bodohnya aku menyia-nyiakan momen itu untuk lebih mengenalnya, padahal setelah kejadian itu, aku sangat menyesal dalam sekali tidak mengambilnya. Andai saja waktu itu aku menerima jambu itu! Akan aku awetkan dengan tanda tangan sudah disentuh Resa.
Sejak saat itu aku tidak berniat untuk mengulangi penyesalan yang sama.
Aku mulai berani kepadanya, aku pura-pura membeli sabun dan hand body ketempat nya.
"Kak, ado sabun lifebuoy warna kuniang dak?" Aku sangat deg-degan sekali buktinya tanganku sok-sokan sibuk menepuk-nepuk Paha.
Ia mencari-cari namun ia tidak menemukannya.
"Dak Ado do bang" Ia tersenyum.
Aku masih gugup sekali, sembari pura-pura tidak memperhatikan matanya yang berbinar aku memperhatikan ke sekeliling.
Aku tercenung namun ia membangunkannya.
"Detol warna kuniang ado bang!"
"Ha, itu selah kak"
Ia mengambil sabun yang ditawarkannya, sembari mengambil ia menanyakan.
"Masih Ado dak bang?" Entah ia mau berlama-lama atau perasaan ku saja yang seperti itu.
"Ado kak, hand body ado kak?"
"Ado bang"
Aku ingin bertemu dengan Doraemon untuk meminta permintaan receh. Kalian tahukan apa?.
"Kak, sabanta laikan anak-anak santri libur semester, libur Lo akak lai tu dak kak? Tu dak sobok awak lai?" Ucapku sangat tenang namun menafsirkan tidak nyaman jika nanti tidak melihatnya lagi.
"Iyo bang, tanggal 15 Resa baliak bg"
Jika aku kalkulasikan tanggal 15 masih 1 Minggu lagi, waktu yang lama bagi santri namun bagiku waktu yang singkat.
Ia membungkus 2 pesanan ku sembarai memberi tahu jumlahnya.
"Okelah kak mokasih"
Bodonya lagi aku, aku tidak meminta nomor hpnya untuk. Untuk apa?.
Aku tahu dia tambah sering lewat ditempat kerjaku namun entah kenapa aku selalu kalah dengan penyesalan.
Bulan puasapun datang. Waktunya di pesantren tinggal 3 hari. hari-hariku masih sama! Sama-sama bodoh, bodoh dan bodoh.
Untuk sahur kami para karyawan hotel harus mengambil makanan ke arah asrama Santriwati tepatnya di samping asrama.
Pernah sauatu momen sebelum aku pergi mengambil Makanan untuk sahur, dalam perjalanan aku pernah berdoa.
Ya Allah semoga aku bertemu dengannya.
Setibanya disana aku benar-benar bertemu dengannya,doaku di ijabah tuhan. Cuma kami berdua namun mulutku seperti dirantai ataukah mulutku seperti Setan. Aku tidak tahu, tidakk ada kata dan tindakan sedikitpun, hanya pura-pura tidak menatapnya. Bodoh untuk kesekian kalinya.
Aku masih kembali dengan penyesalan-penyesalan yang terus menghimpit. Aku juga berfikir, kenapa bukan dia yang duluan mengajakku ngobrol? Oh iya diakan perempuan.
Besoknya waktu untuk buka puasa hampir masuk, aku benar-benar masih berdoa yang sama kepada Tuhan. Setibanya di sana dia tidak ada. Apakah tuhan menganggap doa ku sebelumnya sia-sia? Ayolah tuhan jangan sebercanda ini. Namun dia tidak datang. Aku berusaha memastikan bahkan aku mengambil nasi sangat lama menyendok sedikit demi sedikit tapi tetap dia tidak datang.
Sejak saat itu aku pernah bertemu dengannya, bertemu ketika dia berangkat untuk pulang kampung. Sampai saat aku menulis ini, aku masih berharap kepadanya setidaknya aku bisa tukaran nomor Handphone dengannya.


0 Comments