Oleh : Rindo Ribad
"kamu telah terbangun dari tidur lamamu kentara?" Dokter itu melihatku sembari bahagia, aku mendengar perkataan dokter itu namun samar-samar. Ia melanjutkan pembicaraannya tanpa menunggu jawabanku
"kamu telah tertidur selama 6 bulan dan selama itu akulah yang menjagamu disini". Dokter itu bicara sembari mengerjakan sesuatu ditangannya.
Aku terkejut mendengar pembicaraan dokter, mana mungkin aku tidur selama itu tanpa aku ketahui penyebabnya. "Apa? aku tertidur selama itu?"
"Mengapa aku ada disini? apa yang terjadi padaku? kalian berbica kepadaku tanpa terlihat ada beban bahkan kalian bahagia dengan keadaanku saat ini, apakah kalian tidak bisa memberitahuku kenapa aku ada disini?" aku mencoba memancarkan muka tanya nan masam dengan harap mereka iba. Hingga mereka memberi tahu kenapa aku ada disini.
"Tenang kentara? kamu di sini aman! apakah kamu tidak mengenaliku? aku kaf!" Dia bicara kepadaku dengan suara yang nyaman seolah memberitahuku bahwa dia adalah teman yang pernah aku kenal. "kau Kaf? kaf siapa aku tidak kenal!"
Dokter Kaf berbisik kepada perawat, suara mereka pelan sekali namun aku bisa mendengar bisikan mereka. "Apa yang belum stabil aku sudah sadar, tapi aku benar-benar tidak mengenalmu Dokter kaf".
Dokter kaf tersenyum lebar sembari mengelus-elus tangan kiriku dengan kasih. "Kau aman di sini tunggu kondisimu aman, aku akan memberi tahu kepadamu" dokter Kaf menyunggingkan senyuman.
Aku mencoba menjawab perkataan dokter kaf dengan anggukan kepala dan hempasan nafas yang reda. Sambil melangkah, kaf menyuruh perawat untuk memberiku obat yang terbungkus dengan plastik kuning. Kaf membalik-balik lembaran putih yang tertemmpel di papan mika, aku rasa saat ini kita bukan ujian, dia sibuk menulis-nulis yang di pikirkannya.
Sembari memperhatikan Kaf, perawat menyuruhku untuk meminum obat yang terbungkus dengan plastik kuning. Aku tidak paham kenapa aku bisa percaya dan mendengarkaan apa yang dikatakan Kaf serta menuruti perintah perawat.
Suasana rubuhku berubah ada yang janggal dengan diriku, kepalaku terasa pusing dan mataku mulai meredup, lama-kelamaan aku tidak sadar.
“kamu sudah sadar Kentara?” meski samar-samar tapi aku tahu itu Kaf.
Aku membuka mata dengan pelan, menghirup udara dengan perlahan, melihat mata indah yang menatapku dengan haru.
"Kaf" Sampaiku dengan serak dengan mata yang benar-benar aku buka secara penuh.
"Kau Sadar Kentara! kau benar-benar mengenalku?" Kaf sangat senang hingga di matanya terpantul mukaku yang begitu kecil.
"sejak kapan aku tidak mengenalmu Pak Dokter? Jika suatu waktu aku tidak mengenalmu, waktunya adalah ketika aku melihatmu dengan sorang wanita cantik. Aku takut dia tertarik kepadaku. Aku tahu harus berperan apa sebagai teman yang baik" aku menjawabnya dengan sadar sambil membiarkan tawaku mekar.
Aku melihat ke sekeliling ruangan, aku sadar hanya ada aku, Dokter Kaf dan Bunga Teratai yang berayun diatas langin-langit. "Memang benar kau lebih menawan dariku namun perempuan yang mehihat dirimu, tidak lebih hanya penasaran" ia mencoba membenarkan perkataanku 20 detik yang lalu.
"kau mau melihat air yang ada di taman? Air yang ada disini sudah lama mungkin sudah terkontaminasi dengan aroma kebosanan." Penawaran yang menarik. Dia tidak sabaran tanpa menunggu Persetujuanku dia mengambil kesimpulan sendiri.
Aku dibawa dengan kursi roda namun dia berjalan dengan kakinya. kami melewati ruang hinga ruang, lorong hinga lorong-lorong, keheningan hinga keheningan. suasana memang hening mungkin ia sedang memikirkan kata yang pas dan waktu yang tepat.
Sepertinya air taman yang ada saat ini telah di baca-bacakan sesuatu hingga ketika aku melihatnya tercipta tenang dan sejuk. bisa jadi itu punya mantra.
"Aku tahu kau sedang memikirkan air itu dengan inilah dengan itulah, hikmahlah. apalah itu namanya Kentara. kau memang seperti itu."Aku menyingsingkan senyuman kepada Kaf, sambil mencoba menangkap daun yang jatuh dari pohon bonsai.
"mulai lagi! pasti lagi memikirkan, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah Takdir. bahkan daun yang jatuh seperti itu" Dia lagi-lagi menekanku dengan kata-kata benar nan demikian adalah pekerjaanku.
"kenapa kau malah menyerangku terus pak dokter, aku suka denga pikiranku, kenapa kau yang sibuk." Aku sedikit memberi penegasan yang begitu Apik.
"kentara kau tahu, kau telah telah tertidur selama 6 bulan 3 minggu 2 hari 6jam 33menit.” Seperti tersengat listrik dengan tegangan tinggi saja aku mendengarnya, mataku membelalak keatas, telingaku mengeras dan mungkin memerah.
"Apa? selama itu aku tertidur?"
"ia, kau tertidur selama itu, bahkan sifatmu yang selalu berlebihan memikirkan sesuatu, tak pernah hilang!" Kaf terlihat berekspresi sekali menyampaikannya, sampai-sampai aku tersentak dengan keadaan yang begitu nyata.
"Kau tahu kaf! berfikir adalah keahlianku, jika Mentri Pendidikan membuat Prody dikampus tentang Pikir-memikir. Kau tahukan Sarjana yang lulus pertama dengan predikat cumloud" Aku menegaskan bahwa hal demikian sangatlah luarbiasa.
"Iya-iya terserah kau" Dokter Kaf cukup kesal dengan pembenaran yang aku paparkan.
"oh iya kaf, kenapa aku bisa berada dirumah sakit ini?" Kaf menggaruk-garuk kepala sambil memikirkan sesuatu pertanyaan yang ringan bagiku tapi berat baginya.
*****************************************
1 Tahun Yang………………………………………………….
"Lara, Kita pergi ngobrul yuk, pergi ke Cafe, ketempat pertama kali aku memberikanmu Bunga Kamomil" Aku mengajak kekasihku untuk bertemu lewat pesan singkat telepon genggam, Aku jera dengan kerinduan ini.
Waktu aku memberikan bunga Kamomil pertama kali kepadanya, aku masih ingat raut muka manis, senyum nan merona, Wajah terharunya. Lara tenang, Aku senang bagiku makna bunga komamil sebagai peran ketenangan, Aku lihat di poros wajahnya. Malam dingin yang aku lalui saat ini begitu pedih, Aku tahu akhir-akhir ini dia berubah, jelas sekali perubahannya."sudah larut! Sudah Jam 10 terlalu malam bagiku untuk keluar" Lara membalas pesanku sekitar 10 menit kemudian.
"Sebentar saja Sayang, Aku Rindu." Aku merengek, memperlihatkan Rinduku sebetul-betulnya.
"Okedeh tapi sampai jam 11 Ya" Balasnya singkat.
10 menit kemudian aku sampai dicafe tempat aku mengungkapkan hati. Aku memperhatikan tempat pertama kali aku mengungkapkan Hati kepada Lara. Kebetulan atau memang skenario Tuhan yang membuat hati manusia tidak terpikat untuk duduk disana.
Tak lama aku menunggu, wanitaku Lara dating, Dia memakai jilbab Pink, bajunya berwarna hitam dengan jean andalannya yang membuatku terpesona.
"Lara! Sebelah sini" aku memanggilnya dengan sedikit keras hingga orang-orang terganggu buktinya mereka melihatku dengan tatapan tajam. Lara menuju arahku dengan merekahkan senyuman, aku tahu itu senyuman yang tidak seperti biasanya. "Santai ih, senyumnya sinis amat, Tapi kamu cantik banget malam ini" aku mencoba mengalihkan kejanggalan.
"Kamu kenapa mengajakku Berjumpa?" Tanyanya dengan suara sedikit tinggi. Itu kalimat pertama yang dia ucapkan, bukannya basa-basi nanya ini atau yang lainnya.
Aku hening sejenak, memikiarkan kejanggalan yang mulai berurutan, aku bisa mengukur alur-alurnya. Perasaan aku tidak sedang bertengkar dengan Lara. "Emang tidak boleh aku mengajakmu Bejumpa? Kamukan pacarku!" Aku menjoba mencairkan suasana yang seperti Es Batu.
"Pacar katamu? Kamu tidak ingin mengubahnya dengan panggilan yang lain? Kamu tidak ingin mengganti kata pacar itu dengan kata Istri?" Lara sepertinya sudah menahan kata-kata ini sudah lama, sudah menabung hingga tak tertampung ,hingga ketika penuh sudah menjadi gunung.
Aku tersentak Kaget, tidak pernah Lara berbicara dengan nada dan suara seperti ini sebelumnya kepdaku. "Bukankah Sudah aku katakan, aku menikahimu ketika aku memperoleh Gelar Magiste". Penjelasan yang aku katakan telah didengarnya ketika kami berbicara tentang Pernikahan.
"Sudahlah, Aku muak dengan pembenaranmu yang itu-itu saja, Aku tidak bisa lagi menahannya. Mungkin sampai disini hubungan kita. Aku Sudah dijodohkan Papa." Untuk kedua kalinya, diriku seperti tersentrum namun yang ini rasanya seperti ingin meninggal.
Aku tidak bisa berkata-kata apalagi, jiwa dan ragaku gemetar, Hati dan pikiranku Berantakan. Bumi rasanya hancur, Gempa dimana-mana. Bukan! Diragaku saja. "Tak bisakah kau katakan ke papa, aku akan mendapatkan Gelar Magiste secepatnya?"
"Sudahlah Kentara, Papa telah memberimu waktu 2 tahun. Tapi apa? Kamu masih sibuk dengan duniamu, dengan teman-temanmu dengan mondar-mandir Gunung ke Gunung, Cukup sudah." Lara berbicara dengan nada serak sehingga membuat hatiku berantakan.
"Sudahlah Kentara! Selasaikan saja hidup-hidupmu." Lara langsung meninggalkanku tanpa raut muka berharap ingin dikejar. Lara meninggalkanku tanpa tatapan kebelakang sedikitpun, pergi dengan membawa segalanya kecuali Kepedihan yang tertinggal di atas meja yang lama kelamaan aku hirup hingga menusuk Paru-paru.
Satu bulan berlalu………………………….
Sejak pertemuan malam terahir malam kami bertemu banyak yang berubah. Hari-hariku selalu hujan, tindakanku selalu gagal, kesialan selalu menggeruguti. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Aku teringat segala kenangan Indah yang pernah aku lalui dengan Lara, tak pernah berhenti selalu ada yang menyelimuti, aku tahu dialah yang disebut kehadiran. Masaku habiskan akhir-akhir ini selalu seperti itu.
Aku memutuskan pergi menyendiri, pindah kekota temanku. Temanku menjemput diterminal holongan. Dia adalah Kaf hayana, nama yang bagus jika diartikan. Dia seorang dokter, dokter psikolog.
"Kaf, aku disini" aku menyapanya dengan senyuman hangat, sehangat kopi yang ada ditangan kananku saat ini.
Sepertinya Kaf tahu suasa hatiku, bagaimana mungkin tidak tahu diakan dokter psikolog namun selain itu dia terlihat berfikir untuk menjawab Sapaan. "wah ada yang lagi patah hati nih, jangan pura-pura bahagia, dengan jiwamu yang melankolis, aku tahu kamu sedang ditimpa Lara" kaf menghiburku dengan jawaban yang berisi lantunan seperti lagu anak-anak.
Aku kaget sekali mendengar jawabannya yang membawa-bawa Lara. Padahal aku sangat tertutup tentang masalah pribadi. Darimana Kaf tahu tentang Lara?. "Lara Maksudmu apa?" Aku bertanya kepada Kaf untuk meyakinkan apakah aku tidak salah dengar kaf menyembut nama Lara.
"Ya maksudku Lara, Larakan artinya sedih, kenapa kau berekspresi seperti itu, bukankah biasanya kau yang sering mengunakan istilah-istilah dalam bicara? Kok malah kaget." Kaf menggerutu kebingungan.
Lagi-lagi aku tidak bisa menutup raut yang membuatnya Paham. Kenapa pikiranku tidak Sampai menjangkau istilah ringan itu, malah Lara yang aku ingat.
"Kaf, aku putus dengan Lara, pacarku." Aku mengungkapkan kesedihan dengan Nada suara yang aku lontarkan.
"Pantesan matamu melalak ketika aku katakan istilah Lara" dia terlihat menggaruk-garuk kepala dengan tangan kanannya sambil menghentak-hentak jari telunjuknya kiri kepahanya.
"Sudahlah Kentara, Perpisahan merupakan sesuatu yang seyogyanya harus kau hadapi, namun kau harus bertahan hidup dan bahagia" kaf menenangkan ku, mencari celah, membuat pembenaran untuk aku bahagia.
"Kaf, tidak seringan itu. Aku telah mencoba dengan cara apapun untuk melupakannya namun kau tahu? Kenangan selalu menghantamkus berjilid-jilid."
"Aku mengerti Kentara" Kaf mengeluarkan sesuatu dari dalam saku kiri baju dokternya.
"Apa itu Kaf?." Pikiranku tak henti-hentinya bertanya, itulah pikiran dia menggunakan perannya secara baik.
Aku melihat tempatku berdiri, meraskan lembutnya terpaan angin, hangat sentuhan senja, manja sisiran Daun.
"Maaf kentara, Kau harus bahagia." Kaf mengayunkan benda yang aku pertanyakan, ternyata itu Suntik.
Dengan tempat berdiriku saat ini, aku tahu ini kurang nyaman untuk posisi Kuda-kuda. Aku sempat menahan namun Kaf lebih beruntung, dia menyuntikkan cairan yang aku tidak tahu apa isinya. Aku merasa ada yang berubah, ada yang bergejolak. Aku tidak tahu itu apa. Namun aku rasa cairan itu adalah cairan yang membuat aku tidak sadarkan diri.
************************
“Kamu berada disini karnaku, aku tidak bisa melihatmu sakit hati penuh luka. seperti yang dihadapi seseorang perempuan dahulu, yang harus membuat dirinya mengakhiri hidup, ingatanmu tentang seseorang aku hapus” Kaf menjawab dengan nada berisi masa lalu yang telah dia alami
Kaf kemudian Bertanya kepadaku.
"Apakah kau baik-baik saja Kentara? Apakah perasaanmu tidak Lara sekarang?" Kaf Bertanya namun seolah meyakinkan, apakah benar aku baik-baik Saja.
"Tentu saja Kaf. Aku baik-baik saja. Oh iya. Tolong ya Kaf jangan sok-sokan mengunakan istilah-istilah Lara deh, kamu dokter bukan pengarang"
"Kamu tidak terbebani dengan istilah Lara?" Tanya kaf sekali lagi.
"Terbebani apa Pak dokter?" Jawabku senyum dengan raut tulus, namun perasaan menjengkelkan terhadap tanya pak dokter yang entah dia membodoh-bodohi dirinya sendiri, padahal dia Dokter Psikolog seharusnya dia lebih paham tentang suasana ku.
"Aku Berhasil, Kamu tidak akan tersesat lagi kentara, Semoga Bahagia"
Perasaan aku tidak sedang mengiris-iris bawang tapi kenapa Kaf menangis.


0 Comments